Pada 15 Juli 2025, Presiden Trump mengumumkan kesepakatan baru dengan Indonesia: tarif impor AS untuk barang Indonesia dikurangi dari ancaman sebelumnya sebesar 32% menjadi 19%, sementara produk AS masuk ke Indonesia tanpa tarif.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Indonesia juga setuju membeli produk AS senilai puluhan miliar dolar—termasuk US$15 miliar energi, US$4,5 miliar produk pertanian, dan 50 unit pesawat Boeing.
Dampak utama:
-
Meskipun tarif turun, 19% masih cukup tinggi dan dikhawatirkan akan menurunkan daya saing ekspor, terutama CPO dan tekstil.
-
Sementara pembelian produk AS memberikan ruang diplomatik, nilai ekspor Indonesia ke AS diprediksi tetap terkoreksi dan berpotensi menurunkan GDP sekitar 0,3% di tengah jangka menengah.
2. Kesepakatan IEU‑CEPA dengan Uni Eropa
Setelah hampir satu dekade perundingan, Indonesia dan Uni Eropa sepakat pada CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement).
Dampak utama:
-
Akses bebas tarif untuk ~80% produk ekspor, termasuk produk tekstil, elektronik, dan komoditas seperti CPO dan mineral kritis.
-
Namun, isu keberlanjutan seperti deforestasi dan pelacakan rantai pasok (EUDR) masih jadi hambatan—beberapa pihak menilai perlu ada subsidi dan teknologi bagi petani kecil agar bisa patuh.
3. Penurunan Ekspor Batu Bara & Komoditas Energi
Laporan AP News menunjukkan penurunan permintaan batu bara Indonesia—terutama dari China dan India—karena transisi ke energi bersih.
Meski produksi masih tinggi (rekor 836 juta ton 2024), tren ekspor diperkirakan turun tajam sepanjang awal 2025.
4. Reformasi Diversifikasi Pasar
Kementerian dan pengusaha menyoroti pentingnya diversifikasi pasar, khususnya menghadapi tarif AS yang tinggi.Nilai ekspor nonmigas naik sekitar 9,7% YoY pada Mei 2025, dengan surplus US$4,9 miliar.
Sektor industri pengolahan menyumbang 81% dari ekspor nonmigas; ekspor bijih logam naik 38%, tapi sawit turun 39%.
Tujuan pasar terus diperluas, termasuk BRICS, Eropa, serta negara-negara Asia lainnya.
5. Teknologi & Diplomasi Ekonomi
-
Indonesia aktif ambil peran dalam diplomasi ekonomi: penawaran penurunan tarif impor AS, pembelian gandum US$500 juta, pembelian Boeing hingga 75 unit.
-
Adopsi teknologi seperti AI di ekspor juga jadi tren, meningkatkan efisiensi rantai pasok lintas negara.
🔍 Kesimpulan
| Fokus | Dampak & Rekomendasi |
|---|---|
| AS | Tarif 19% masih cukup tinggi → perlu strategi untuk peningkatan nilai tambah komoditas dan negosiasi lanjutan untuk turunkan tarif. |
| Uni Eropa | Peluang besar membuka pasar CEPA, tapi isu keberlanjutan perlu solusi teknologi dan dukungan bagi petani/pelaku skala kecil. |
| Batu Bara | Sudah waktunya akselerasi transisi energi dan pendalaman pasar non-komoditas. |
| Diversifikasi | Intensifkan penetrasi ke pasar BRICS, Afrika, dan peluang baru di Asia Tengah. |
| Teknologi & Diplomasi | Perlu akselerasi teknologi (digital, AI) dan diplomasi proaktif agar ekspor tahan guncangan eksternal. |
Secara keseluruhan, ekspor Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dari kebijakan proteksionis global (terutama AS), perubahan pasar energi, serta tuntutan keberlanjutan dari UE. Berbagai perjanjian dagang dan strategi diversifikasi baik di bidang politik maupun ekonomi menjadi kunci agar ekspor nasional tetap tumbuh dan resilient.







